Minggu, 23 September 2012

RUDAL BANCI SBY UNTUK MALAYSIA


RUDAL BANCI SBY UNTUK MALAYSIA

Arifki
Anggota Muda UKM PHP/ Mahasiswa Ilmu Politik  Unand, Sumatra Barat
Ini dadaku, mana dadamu?
Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer
(Bung Karno)
Negeri ini memang sungguh aneh dalam menangkapi euporia masalah yang terus bertubi-tbi menghantam harga diri bangsa ini. Kasus pencaplokan budaya Indonesia memang bukan sarapan pagi lagi bagi kita semua tetapi sudah menjadi berita basi yang terus melukai titik sensitif rakyat negeri ini. Kontroversi pengklaim batik, reok ponorogo, tari pendet, lagu rasa sayange, anglung dan berita baru yang membuat membaranya kemarahan bangsa Indonesia adalah klaim dari bangsa Malaysia yang ingin menjadikan tari tor-tor dan gondrang Sembilan kebudayan asli mandeling Sumatra Utara itu membuat semua masyrakat rusuh opini agar pemerintah bertindak tegas terhadap hal ini.
Perasaan bangsa ini tentu di sobek-sobek padahal kebudayaan mandeling adalah darah daging yang budaya bangsa yang sering di gaung-gaungkan oleh masyrakat batak kepada negeri ini sebagai ciri khas mereka. Sabang sampai meroke sudah tahu tentang budaya yang populer setiap acara adat dilaksanakan.`
Tentu secara geografis kita tidak bisa menyalahkan Malaysia jika melihat kondisi kita yang serumpun dengan negeri jiran tersebut. Klaim tersebut tentu bisa di timbulkan dengan banyaknya warga mandeling yang telah berdomisili di negeri jiran tersebut. Tapi jika konsepnya mengembangkan budaya Indonesia boleh-boleh saja tapi kalau di photokopi serta dianngap sebagai budaya Malaysia itu sama saja Malaysia membangunkan macan yang sedang tidur.
PEMERINTAH TERLALU LOYO
Copy Paste budaya yang dilaksanakan oleh Malaysia bukan satu kali atau dua kali lagi tetapi sudah sering Malaysia membuat bangsa ini mendung dengan kemarahan sebelum mengeluarkan hujan konflik di tataran selat malaka itu. Siapa lagi yang di persalahkan dalam hal ini kalau bukan SBY- Boediono sebagai lambang pemerintah yang sedang berkuasa hari ini di negeri Indonesia. Setiap ada permasalahan dengan Malaysia SBY hanya mengirimkan nyanyian rudal diplomasi yang tergolong banci bagi Malaysia karena ketangguhan SBY sebagai mantan prajurit akan di pertanyakan. Tentu spekulasi ragu-ragu SBY yang jika bertindak keras terhadap Malaysia maka TKI kita aka dipaksa akan koper dari Malaysia. Kita membaca kasus ini harus dengan nyali, cobalah dilihat secara lebih detail.Ekonomi Malaysia tingkat buruh di dominasi oleh TKI asal Indonesia. Jika saja TKI kita di depak dari tanah jiran maka Malaysia tentu akan kewalahan unuk mengisi kekosongan buruh tersebut. Ekonomi Malaysia tentu akan lumpuh total.
Berapa banyak TKI kita yang pulang dengan peti mati bukan sebagai pahlawan Devisa yang bisa berbangga kepada Ibu pertiwi ini. Seakan-akan itu menjadi tontonan menarik bagi pemerintah dalam menarik urat malunya. Ini bukti bahwa Negara besar ini dianggab rendah oleh bangsa lain. Permasalahan jangka panjang yang harus di kaji oleh pemerintah adalah pemerintah harus membenahi system ekonomi yang baik dulu. Pendidikan adalah langkah awal untuk memberantas kemiskinan jangan kita terlalu berharap untuk melahairkan pengusaha tapi krisis negarawan yang berhati merakyat. Bangsa ini aka di gadaikan dengan harga murah jika sistem kepemimpinan yang bernyali tidak di bentuk mulai dari sekarang.
DANA OLAHRAGAPUN MASUK  KANTONG
Pernyataan itu tentu sangat mengelitik sekali dalam pembahasan masyrakat jangankan untuk mengertak Malaysia dengan kemampuan olahraga kita. Persiapan untuk membuktikan nyali bangsa ini malah di pangkas oleh koruptor negeri ini. Pembangunan Wisma Atlet sebagai refresentasi ketamakan para birokrat untuk memenuhi syahwat pribadi tanpa memikirkan dampak besar yang akan di timbulkannya. Sea Games Palembang yang  membuat pemerintah ketetaran karena kekurangan anggaran yang ternyata di sunat oleh para anggota mafia yang tidak tahu diri dengan jabatan yang sedang ia cicipi detik ini. Betapa tidak dua hari menjelang acara akan dialaksanakan pekerja masih beres-beres untuk mempercepat pemabangunan wisma Atlet. Kasus pembagunan pusat olahraga Hambalang malah dijadikan tambahan baru bagi para koruptor untuk memenuhi kantongnya agar olahraga kita tambah carut-marut dalam menjalankan sistemnya. Kalau kita kalkulasikan kasus perampasan Dana Olahraga berkisar 6,2 Triliun Wisma Atlet + Hambalang. AFC dan Sea Games merupakan tamparan yang di berikan Malaysia buat Indonesia yang belum becus dalam memperbaiki sistem olahraga di Indonesia.  Secara prestasi saja kita telah ditekan oleh Malaysia, secara budaya di korupsi Malaysia dan secara nyali pemerintah terlalu banci menghadapi Malaysia. Tentu kita tidak akan memutar kembali romatisme masa lalu Soekarno dalam mengatakan Ganyang untuk Malaysia. Marilah kita berbenah dan betul-betul konsisten dalam mempertahankan harga diri bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar