RUDAL BANCI SBY UNTUK MALAYSIA
Arifki
Anggota Muda UKM PHP/ Mahasiswa Ilmu Politik Unand, Sumatra Barat
Ini dadaku, mana dadamu?
Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer
(Bung Karno)
Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer
(Bung Karno)
Negeri
ini memang sungguh aneh dalam menangkapi euporia masalah yang terus bertubi-tbi
menghantam harga diri bangsa ini. Kasus pencaplokan budaya Indonesia memang
bukan sarapan pagi lagi bagi kita semua tetapi sudah menjadi berita basi yang
terus melukai titik sensitif rakyat negeri ini. Kontroversi pengklaim batik,
reok ponorogo, tari pendet, lagu rasa sayange, anglung dan berita baru yang
membuat membaranya kemarahan bangsa Indonesia adalah klaim dari bangsa Malaysia
yang ingin menjadikan tari tor-tor dan gondrang Sembilan kebudayan asli
mandeling Sumatra Utara itu membuat semua masyrakat rusuh opini agar pemerintah
bertindak tegas terhadap hal ini.
Perasaan
bangsa ini tentu di sobek-sobek padahal kebudayaan mandeling adalah darah
daging yang budaya bangsa yang sering di gaung-gaungkan oleh masyrakat batak
kepada negeri ini sebagai ciri khas mereka. Sabang sampai meroke sudah tahu
tentang budaya yang populer setiap acara adat dilaksanakan.`
Tentu
secara geografis kita tidak bisa menyalahkan Malaysia jika melihat kondisi kita
yang serumpun dengan negeri jiran tersebut. Klaim tersebut tentu bisa di
timbulkan dengan banyaknya warga mandeling yang telah berdomisili di negeri
jiran tersebut. Tapi jika konsepnya mengembangkan budaya Indonesia boleh-boleh
saja tapi kalau di photokopi serta dianngap sebagai budaya Malaysia itu sama
saja Malaysia membangunkan macan yang sedang tidur.
PEMERINTAH TERLALU
LOYO
Copy
Paste budaya yang dilaksanakan oleh Malaysia bukan satu kali atau dua kali lagi
tetapi sudah sering Malaysia membuat bangsa ini mendung dengan kemarahan
sebelum mengeluarkan hujan konflik di tataran selat malaka itu. Siapa lagi yang
di persalahkan dalam hal ini kalau bukan SBY- Boediono sebagai lambang pemerintah
yang sedang berkuasa hari ini di negeri Indonesia. Setiap ada permasalahan
dengan Malaysia SBY hanya mengirimkan nyanyian rudal diplomasi yang tergolong
banci bagi Malaysia karena ketangguhan SBY sebagai mantan prajurit akan di
pertanyakan. Tentu spekulasi ragu-ragu SBY yang jika bertindak keras terhadap
Malaysia maka TKI kita aka dipaksa akan koper dari Malaysia. Kita membaca kasus
ini harus dengan nyali, cobalah dilihat secara lebih detail.Ekonomi Malaysia
tingkat buruh di dominasi oleh TKI asal Indonesia. Jika saja TKI kita di depak
dari tanah jiran maka Malaysia tentu akan kewalahan unuk mengisi kekosongan
buruh tersebut. Ekonomi Malaysia tentu akan lumpuh total.
Berapa
banyak TKI kita yang pulang dengan peti mati bukan sebagai pahlawan Devisa yang
bisa berbangga kepada Ibu pertiwi ini. Seakan-akan itu menjadi tontonan menarik
bagi pemerintah dalam menarik urat malunya. Ini bukti bahwa Negara besar ini
dianggab rendah oleh bangsa lain. Permasalahan jangka panjang yang harus di
kaji oleh pemerintah adalah pemerintah harus membenahi system ekonomi yang baik
dulu. Pendidikan adalah langkah awal untuk memberantas kemiskinan jangan kita
terlalu berharap untuk melahairkan pengusaha tapi krisis negarawan yang berhati
merakyat. Bangsa ini aka di gadaikan dengan harga murah jika sistem
kepemimpinan yang bernyali tidak di bentuk mulai dari sekarang.
DANA OLAHRAGAPUN MASUK
KANTONG
Pernyataan
itu tentu sangat mengelitik sekali dalam pembahasan masyrakat jangankan untuk
mengertak Malaysia dengan kemampuan olahraga kita. Persiapan untuk membuktikan
nyali bangsa ini malah di pangkas oleh koruptor negeri ini. Pembangunan Wisma
Atlet sebagai refresentasi ketamakan para birokrat untuk memenuhi syahwat
pribadi tanpa memikirkan dampak besar yang akan di timbulkannya. Sea Games
Palembang yang membuat pemerintah
ketetaran karena kekurangan anggaran yang ternyata di sunat oleh para anggota
mafia yang tidak tahu diri dengan jabatan yang sedang ia cicipi detik ini.
Betapa tidak dua hari menjelang acara akan dialaksanakan pekerja masih
beres-beres untuk mempercepat pemabangunan wisma Atlet. Kasus pembagunan pusat
olahraga Hambalang malah dijadikan tambahan baru bagi para koruptor untuk
memenuhi kantongnya agar olahraga kita tambah carut-marut dalam menjalankan
sistemnya. Kalau kita kalkulasikan kasus perampasan Dana Olahraga berkisar 6,2
Triliun Wisma Atlet + Hambalang. AFC dan Sea Games merupakan tamparan yang di
berikan Malaysia buat Indonesia yang belum becus dalam memperbaiki sistem
olahraga di Indonesia. Secara prestasi
saja kita telah ditekan oleh Malaysia, secara budaya di korupsi Malaysia dan
secara nyali pemerintah terlalu banci menghadapi Malaysia. Tentu kita tidak
akan memutar kembali romatisme masa lalu Soekarno dalam mengatakan Ganyang
untuk Malaysia. Marilah kita berbenah dan betul-betul konsisten dalam
mempertahankan harga diri bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar