Minggu, 23 September 2012

TOKOH LAWAS TERLALU BERSYAHWAT UNTUK 2014




 


TOKOH LAWAS TERLALU BERSYAHWAT UNTUK 2014
Arifki
Anggota Muda UKM PHP/ Mahasiswa Ilmu Politik  Unand, Sumatra Barat

Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)


Betapa menggelora semangat soekarno dalam mengucapkan kata-kata diatas. Pemuda memang icon Negara yang paling urgen sekali jika kita ingin membangun tata kelola Indonesia lebih baik kedepannya. Peristiwa Rengas denglok merupakan contoh bagaimana pemuda begitu bergerak cepat dalam pengambilan keputusan. Pertempuran pendapat antara golongan tua dengan golongan muda pada tanggal 16 Agustus 1945 tersebut membuat golongan tua mengalah. Sehingga 17 Agustus 1945 di tetapkan sebagai hari kemerdekaan Republik ini.
Kalau tidak ada peran kunci pemuda dalam hal ini tentu kemerdekaan kita akan di tunda atau malah terlunta-lunta sampai detik ini. Romantisme masa lalu ini memang begitu mengesankan untuk kita renungkankan dan kita pedomani. Perhatian kita tentu mengarah kepada siapa yang akan menjadi kuda hitam 2014 nantinya. Tokoh-tokoh lawas yang masih mengemuka ke publik membuat bangsa ini bisa di tapsirkan kehilangan regenarasi kepemimpinan.
Banyaknya macan-macan veteran yang kembali disebut sebagai figur paling pantas menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mendapatkan sorotan Ketua MPR Taufiq Kiemas. Menurut Taufiq, Pemilu 2014 harusnya menjadi momentum alih generasi kepemimpinan nasional dari tokoh tua kepada tokoh yang lebih muda.

            Suami Megawati itu pun berharap, tokoh-tokoh tua yang tak mungkin terpilih lagi lebih baik mengurungkan niatnya untuk maju di Pilpres 2014. "Saya usul beri kesempatan ke tokoh yang lebih muda saja," kata Taufiq usai menjadi pembicara kunci pada Sarasehan Nasional tentang Kepemimpinan Berkarakter Pancasila di Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa (29/5).
Sungguh menarik kita membahas masalah pernyataan Ketua MPR RI tersebut. Betapa tidak tokoh-tokoh yang bisa di katakana semangatnya akan luntur dengan pertimbangan dan pertimbangan saja dari pada mengambil peluang yang cepat dalam konstruksi kemajuan negeri ini. Sejarah telah menyapa kita bahwa soekarno jaya dan sangat mengelora ketika ia menjadi presiden pertama Indonesia dalam usia muda. Empat puluh empat tahun beliau menikmati singgasana kepresiden membuat dia begitu bersinar dalam membangun nasionalisme negeri ini.
Lunturnya usia membuar soekarno kehilangan semangat mudanya sehingga kekuasaannyapun di rebut oleh golongan muda yang berumur 45 tahun yaitu Soeharto. Tumbangnyanya Soekarno pada tahun 1966 mengartikan bahwa Soekarno terlalu tamak dengan kekuasaan yang telah ia emban dari tahun 1945-1966. Soeharto dalam jiwa mudanya sangat bernapsu sekali dalam ambisi kekuasaannya. Perkembangan ekonomi yang di bangun Soeharto sangat baik sekali pada zaman Orde Baru tersebut walaupun kekebabasan bependapat di borgol dengan ketat.
Ketamakan Soekarno yang tetap gigih mempertahankan kekuasaanya untuk menjadi Presiden seumur hidup tidak menjadi contoh bagi Soeharto. Tiga puluh tahun melalang buana mencicipi kursi kepresiden Indonesia membuat Soeharto harus di turunkan dengan tidak terhormat  pada 21 Mei 1998. Pemimpin Orde Lama dan Orde Baru itu sudah menjadi euphoria kita dalam membaca sejarah bahwa usia tua bukan lagi menjadi usia yang pantas untuk membangun negeri ini yang masih menjadi Negara berkembang.
Undang-undang memang mengatakan bahwa usia minimal memang 35 tahun untuk menjadi presiden. Undang-undang tidak mengatakan usia maksimal untuk menjadi seorang presiden. Kita tentu tidak menghalangi para-para tua-tua keladi tetap mencalonan sebagai Presiden Indonesia pada 2014 nanti. Permasalahan yang ingin kita kemukakan harus ada sikap tahu diri dan menyiapkan generai selanjutnya. Jangan sampai tokoh-tokoh yang punya prestasi baik dan menikmati hari tuanya dengan  tenang Malah di caci maki menjelang akhir masa jabatannya dan mengaburkan sejarah yang telah mereka ukir. Hujan sehari bisa menghapuskan kemarau setahun, sikap memberikan peluang pada generasi muda harus tetap di kobarkan jika Indonesia tidak mau kehilangan pemimpin di masa depan.
Megawati Soekarno Putri yang masih di hebohkan para pendukungnya untuk merebut posisi orang nomorsatu di republik ini pada 2014 nanti, Prawo Subianto, Wiranto, Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla hendaknya menyiapkan geneasi muda yang bisa menggambarkan karakter mereka. Cinta itu tidak usah memiliki, kalau betul-betul cinta dengan Republik ini mari persilahkan yang muda yang maju. Jika partai masih keras kepala dalam hal ini mengartikan partai gagal total dalam menciptakan regenarsi kepemimpian negeri ini. Orang tua itu peragu dan banyak menimbang-nimbang seperti pemimpin yang menjabat hari ini. Banyak berpikir malah membuat tidak  melakukan sama sekali. Peristiwa Rengas Denglok dan keruntuhan Orde Lama dan Orde Baru sudah menjadi catatan bagi kita. Mari yang muda maju yang tua mendukung….   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar