TOKOH LAWAS TERLALU BERSYAHWAT UNTUK 2014
Arifki
Anggota Muda UKM PHP/ Mahasiswa Ilmu
Politik Unand, Sumatra Barat
“ Berikan
aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10
pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)
Betapa menggelora semangat soekarno dalam mengucapkan kata-kata diatas.
Pemuda memang icon Negara yang paling urgen sekali jika kita ingin membangun
tata kelola Indonesia lebih baik kedepannya. Peristiwa Rengas denglok merupakan
contoh bagaimana pemuda begitu bergerak cepat dalam pengambilan keputusan.
Pertempuran pendapat antara golongan tua dengan golongan muda pada tanggal 16
Agustus 1945 tersebut membuat golongan tua mengalah. Sehingga 17 Agustus 1945
di tetapkan sebagai hari kemerdekaan Republik ini.
Kalau tidak ada peran kunci pemuda dalam hal ini tentu kemerdekaan kita
akan di tunda atau malah terlunta-lunta sampai detik ini. Romantisme masa lalu
ini memang begitu mengesankan untuk kita renungkankan dan kita pedomani.
Perhatian kita tentu mengarah kepada siapa yang akan menjadi kuda hitam 2014
nantinya. Tokoh-tokoh lawas yang masih mengemuka ke publik membuat bangsa ini bisa
di tapsirkan kehilangan regenarasi kepemimpinan.
Banyaknya macan-macan veteran yang kembali disebut sebagai figur paling
pantas menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mendapatkan
sorotan Ketua MPR Taufiq Kiemas. Menurut Taufiq, Pemilu 2014 harusnya menjadi
momentum alih generasi kepemimpinan nasional dari tokoh tua kepada tokoh yang
lebih muda.
Suami Megawati itu pun berharap, tokoh-tokoh tua yang tak mungkin terpilih lagi lebih baik mengurungkan niatnya untuk maju di Pilpres 2014. "Saya usul beri kesempatan ke tokoh yang lebih muda saja," kata Taufiq usai menjadi pembicara kunci pada Sarasehan Nasional tentang Kepemimpinan Berkarakter Pancasila di Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa (29/5).
Suami Megawati itu pun berharap, tokoh-tokoh tua yang tak mungkin terpilih lagi lebih baik mengurungkan niatnya untuk maju di Pilpres 2014. "Saya usul beri kesempatan ke tokoh yang lebih muda saja," kata Taufiq usai menjadi pembicara kunci pada Sarasehan Nasional tentang Kepemimpinan Berkarakter Pancasila di Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa (29/5).
Sungguh menarik kita membahas masalah pernyataan Ketua MPR RI tersebut.
Betapa tidak tokoh-tokoh yang bisa di katakana semangatnya akan luntur dengan
pertimbangan dan pertimbangan saja dari pada mengambil peluang yang cepat dalam
konstruksi kemajuan negeri ini. Sejarah telah menyapa kita bahwa soekarno jaya
dan sangat mengelora ketika ia menjadi presiden pertama Indonesia dalam usia
muda. Empat puluh empat tahun beliau menikmati singgasana kepresiden membuat
dia begitu bersinar dalam membangun nasionalisme negeri ini.
Lunturnya usia membuar soekarno kehilangan semangat mudanya sehingga
kekuasaannyapun di rebut oleh golongan muda yang berumur 45 tahun yaitu
Soeharto. Tumbangnyanya Soekarno pada tahun 1966 mengartikan bahwa Soekarno
terlalu tamak dengan kekuasaan yang telah ia emban dari tahun 1945-1966.
Soeharto dalam jiwa mudanya sangat bernapsu sekali dalam ambisi kekuasaannya.
Perkembangan ekonomi yang di bangun Soeharto sangat baik sekali pada zaman Orde
Baru tersebut walaupun kekebabasan bependapat di borgol dengan ketat.
Ketamakan Soekarno yang tetap gigih mempertahankan kekuasaanya untuk
menjadi Presiden seumur hidup tidak menjadi contoh bagi Soeharto. Tiga puluh
tahun melalang buana mencicipi kursi kepresiden Indonesia membuat Soeharto
harus di turunkan dengan tidak terhormat
pada 21 Mei 1998. Pemimpin Orde Lama dan Orde Baru itu sudah menjadi
euphoria kita dalam membaca sejarah bahwa usia tua bukan lagi menjadi usia yang
pantas untuk membangun negeri ini yang masih menjadi Negara berkembang.
Undang-undang memang mengatakan bahwa usia minimal memang 35 tahun untuk
menjadi presiden. Undang-undang tidak mengatakan usia maksimal untuk menjadi
seorang presiden. Kita tentu tidak menghalangi para-para tua-tua keladi tetap
mencalonan sebagai Presiden Indonesia pada 2014 nanti. Permasalahan yang ingin
kita kemukakan harus ada sikap tahu diri dan menyiapkan generai selanjutnya.
Jangan sampai tokoh-tokoh yang punya prestasi baik dan menikmati hari tuanya
dengan tenang Malah di caci maki
menjelang akhir masa jabatannya dan mengaburkan sejarah yang telah mereka ukir.
Hujan sehari bisa menghapuskan kemarau setahun, sikap memberikan peluang pada
generasi muda harus tetap di kobarkan jika Indonesia tidak mau kehilangan
pemimpin di masa depan.
Megawati Soekarno Putri yang masih di hebohkan para pendukungnya untuk
merebut posisi orang nomorsatu di republik ini pada 2014 nanti, Prawo Subianto,
Wiranto, Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla hendaknya menyiapkan geneasi muda yang
bisa menggambarkan karakter mereka. Cinta itu tidak usah memiliki, kalau
betul-betul cinta dengan Republik ini mari persilahkan yang muda yang maju.
Jika partai masih keras kepala dalam hal ini mengartikan partai gagal total
dalam menciptakan regenarsi kepemimpian negeri ini. Orang tua itu peragu dan
banyak menimbang-nimbang seperti pemimpin yang menjabat hari ini. Banyak berpikir
malah membuat tidak melakukan sama
sekali. Peristiwa Rengas Denglok dan keruntuhan Orde Lama dan Orde Baru sudah
menjadi catatan bagi kita. Mari yang muda maju yang tua mendukung….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar