TUMBAL BARU ASRAMA UNIVERSITAS ANDALAS
Arifki
Anggota Muda UKM PHP/ Mahasiswa Ilmu Politik Unand, Sumatra Barat
“Kamu bisa membohongi semua
orang bebarapa saat dan beberapa orang setiap saat, tetapi kamu tidak bisa membohongi orang
lain setiap saat “
( Abraham Lincoln, Presiden AS ke- 16 )
Betapa
mahirnya kita menciptakan sebuah kebohongan tentu kita tidak bisa membohongi
orang lain setiap saat. Itulah intisari yang dapat kita simpulkan dari
kata-kata Presiden Amerika Serikat Ke-16 diatas .
Kebohongan
merupakan babak permasalahan yang sering kita temui . Kebusukan yang selalu
ditanam di Asrama Universitas Andalas
kepada mahasiswa baru yang diasramakan bukan lagi menjadi kabar angin.
Masalah asrama sudah menjadi masalah yang
besar dan berlangsung sudah lama tapi karena tidak ada yang memiliki
keberniaan untuk mengungkap ini. Artikel ini tentu tidak lempar batu sembunyi
tangan terhadap skandal-skandal yang terjadi di asrama Universitas Andalas.
Sebelum kita mengetahui sebuah kue itu enak atau pahit tentu dengan mencoba
sendiri kue tersebut. Begitulah yang saya lakukan, saya adalah mantan mahasiswa
asrama angkatan ke VII tentu saya tahu
betul carut- marut asrama unad dari hulu sampai ke hilir. Asrama Unand yang
dijadikan jualan Rektor untuk menarik simpati publik untuk program pembentukan
karakter mahasiswa Unand semakin hari makin menarik simpati kalayak banyak.
Asrama Unand sangat baik sekali dalam pengelolaan kareakter mahasiswa dalam
bidang keagaman tapi yang menjadi skandal permasalahanya adalah asrama Unand
dijadikan sebagai ajang cari muka oleh pimpinan Unand. Mahasiswa asrama di
jadikan anjing penjaga kekuasaan rektor. Dengan menurut semua aturan rektor
yang kadang sangat nyeleneh itu.
Betapa
tidak mahasiswa asrama yang dijinakan dengan otoritas yang dimilikinya agar bicara
soal unand tentang yang baik-baiknya saja. Inilah bentuk pimpinan mengajarkan
kebohongan kepada mahasiswanya, semua terasa di lebih-lebihkan. Mental
mahasiswa asramapun di bentuk adalah mental pengejut bukan mental para pejuang
yang berani mengungkap kebenaran. Rektor unand adalah pemimpin yang alergi
untuk dikritik maunya hanya di puja dan dipuji seperti para dewa. Pemimpin yang
hanya berbicara bukan karena fakta lebih mengarah kepada menutupi kegagalannya
maka cari muka dengan alat pencitraan.
“
Berbohong akan berbanding lurus dengan
prilaku pencitraan “ tulis Chairu Fahmi dari Aceh Insituate. Menurutnya dalam
kontek pencitraan diri selalu di tampilkan seakan-akan “ Malaikat “ penyelamat
dan pahlawan kebaikan. Sekilas pencitraan berhasil menampilkan subyek yang
dicitrakan seperti yang diharapkan. Namun, karena pencitraan hanyalah polesan
dari luar untuk menampilkan kebaikan maka kebohongan dalam pencitraan akan terlihat
ketika apa yang dicitrakan tidak sesuai dengan prilaku, tabiat dan kebiasaanya.Berbeda
dengan pemimpin yang jujur yang memancarkan kharisma sesungguhnya, bukan produk
pencitraan. Kharisma adalah kebaikan yang terpancar dari dalam.
Pertengahan
Juli 2012 ini adalah masuknya mahasiswa baru asrama Universitas Andalas
Angkatan ke VIII. Tentu jualan Bapak Wery Darta Taifur akan laku keras di
pasaran mahasiswa baru asrama. Isu kampus yang melibatkan nama beliau belum
terkontaminasi ke ranah ekternal unand. Masyarakat luas mengetahui bahwa unand
adalah kampus yang bersih dari korupsi dan tidak ada tercemar namanya. Suntikan
bius pencitraan pasti menjadi rudal ampuh bapak rektor untuk menarik simpati.
Jika kita ingin menjadikan sumbar bersih dari korupsi yang bersihkan dulu
kampus-kampus yang dihuni para pelacur-pelacur intelektual itu terlebih dahulu.
Kita mengharapkan kepada media lokal maupun nasional untuk menyelidiki kasus
ini karena dampak psikologis mahasiswa akan mati jika konsep asrama yang
terlalu menguntungkan pihak rektorat saja.
Jangan sampai kebohongan publik yang pernah
dilakukan Bapak Musliar Kasim juga ditradisikan juga kepada mantan kroninya
itu. Mahasiswa penerima Bidik Misi tidak membayar uang asrama begitulah dia
bernyanyi solo di hadapan media. Tapi kita tidak butuh verbalisme dan retorika
saja tapi bukti nyata bahwa rektor Unand adalah penerus Hatta bukan Soeharto.
Tumbal baru untuk asrama memang sangat pantas sekali bagaimana kita melihat
hubungan Bapak wery darta taifur dengan Bapak Musliar Kasim sudah seperti bayi kembar siam yang sulit
untuk di pisahkan. Kita mahasiswa Unand tentu ingat bagaimana Bapak Rektor melarang
mahasiswa untuk demontrasi masalah kenaikan BBM beberapa bulan kebelakang. Bus
Kampus yang di operasikan dengan uang mahasiswa ketika BBM naik mahasiswa ingin
turun kejalan bus kampus malah di tahan-tahan. Maka banyak orang yang
mempertanyakan kemenagan Rektor Wery Darta Taifur dalam bursa pemilihan Rektor
menimbang beliau terlalu arogan terhadap mahasiswa. Walaupun yang terlibat
disana hanya Senator dan Suara dari Mendiknas. Tentu Tuhan yang tahu apakah ada
konspirasi di bursa pemilihan rektor tersebut.
Mahasiswa
Bidik Misi yang jumlahnya kira 750 –an akan diancam dengan alasan yang tidak
jelas. Aturan Unand yang sangat kita dukung memberikan peringatan kepada
mahasiswa penerima Bidik Misi apabila Indeks Prestasinya dibawah tiga. Tapi larangan demontrasi untuk
mahasiswa bidik misi itulah yang kita tuntut
memang pimpinan tidak menegaskan secara tertulis tapi ancaman mulut
terus di kobarkannya tanpa henti. Mahasiswa bidik misi yang di perlakukan tidak
etis memang membuat geram semua mahasiswa bidik misi. Apalagi ketiaka rektor
Unand mengumpulkan mahasiswa Bidik Misi 2011 di PKM unand lantai I ia
mempermalukan sebahagian mahasiswa bidik misi. Sungguh hari itu menjadi
tontonan bagi kita seorang diktator yang memperlakukan rakyatnya.
Masalah
yang paling mengelitik adalah ketika teman kita dari jurusan Administrasi
Negara angkatan 2011 sangat vokal menanyakan permasalahan Unand waktu ada
pertemuan pihak Unand dengan mahasiswa yang di mediasikan oleh BEM KM Unand.
Beliau juga mahasiswa penerima Bidik Misi, Beberapa hari setelah itu ada
penandatanganan SPJ Bidik Misi sehingga beliau mendapat teguran. “ Anda itu
mahasiswa penerima Bidik Misi, Janganlah terlalu Vokal benci birokrat kepada
anda nantinya “. Uang bidik Misi adalah uang Negara bukan uang bapak wery darta
taifur, hubungannya jelas tidak ada antara mahasiswa Bidik Misi dengan
mahasiswa yang Vokal. Seharusnya pegawai yang menegur teman kita itu sadar diri
mereka mendaptkan pekerjaan karena ada mengurusi beasiswa kemahasiswaan.
Menjilat kepada atasan janganlah di budayakan karena itu merupakan kebohongan
yang ditutupi.
Tentu
masih segar dalam ingatan kita bagaimana Bapak Muslihar Kasim membangun citra
sejak ia jadi rektor, Ketua Majelis Rektor
dan sekarang sebagai Wakil mentri Pendidikan dan Kebudayaan. Jangan sampai hal
yang sama juga diakukan oleh kroninya yang sedang menjabat Karena ini akan
menjadi budaya korupsi yang tidak akan pernah putus. Memang soal cari muka
Bapak Musliar Kasim lebih hebat dengan poker facenya dibandingkan bapak Wery.
Hal itu terungkap jika kita memperhatikan gaya bicara Bapak Wery ketika
memberikan sambutan setiap ada kegiatan. Ada beban yang ia tutupi ketika
berbicara sehingga tatapan matanya ada kemarahan menimbang dari kebohongan yang
sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Sangat mengejutkan sekali ketika Bapak
Wery selalu bicara apabila ada seminar tentang korupsi “ Mahasiswa hanya bisa
mendemontrasi orang lain yang korupsi padahal mahasiswa juga korupsi dengan
mencontek waktu ujian “. Lucu sekali nyayian bapak Rektor tersebut sama dengan
SBY yang pidato di depan pendiri dan DPD Partai Demokrat Se- Indonesia “ Partai kita masih urutan ke-3
dalam Indeks korupsinya masih ada Partai lain yang lebih korupsi dari pada
partai kita, tapi kenapa partai kita yang sering di sorot “. Ternyata kemiripan
gaya politik SBY sama dengan Bapak Wery Darta Taifur. Ia mengkambing hitamkan
orang lain untuk menutupi kegagalannya agar tidak di cium publik. Bapak
Muslihar Kasim memang memilki Poker Face seperti Soeharto dan bapak Wery Darta
Taifur lebih mengarah kepada gaya politik SBY yang mukanya mudah di baca. Jadi
kebohongannya bisa terlihat dengan cara ia bersikap dan berhubungan dengan
mahasiswa
Janganlah
Bapak jadikan Adik-adik kami sebagai tumbal kuasaan bapak untuk menjadi bahan
jualan bapak ke dewa bapak yaitu Pak mentri dan Sang Presiden SBY untuk
menjinakkan suara lantang mahasiswa. Semangat Soekarno ada di Sumatra Barat
yang siap menyapu bersih pemimpin-pemimpin yang komprador. Konsep Machiaveli
untuk mendapatkan sudah basi bagi rakyat Indonesia. Mari berbenah diri atau
tidak memundurkan diri. Legowo Pak…!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar